Ki Ageng Pengging aka Kebo Kenongo (2)

Posted: July 2, 2010 in Sejarah
Tags: ,

lanjutan

(3)

Keputusan resmi dari pemerintahan Demak Bintara mengenai status wilayah Pengging tidak juga kunjung turun. Ki Ageng Pengging enggan mempertanyakan hal tersebut. Walaupun sesungguhnya, beliau sudah resmi tidak menjabat sebagai seorang Adipati, namun pada kenyataannya, beliaulah yang tetap harus mengelola Pengging dan menjaga kawasan tersebut agar senantiasa kondusif.

Tentu saja, statusnya yang bukan Adipati, mempersulit bagi beliau untuk mengeluarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru dalam urusan ketata negaraan. Pengging ibarat wilayah tanpa penguasa. Pengging stagnan dalam segala bidang. Hanya penarikan upeti dan penyaluran ke pemerintah pusat saja yang terus berjalan. Selain itu, Pengging sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Dalam kemiliteran, Pengging sama sekali sudah lumpuh. Pengging adalah wilayah terbuka tanpa perlindungan. Untung, Pengging tetap terkendali.

Kehidupan para penduduk Pengging tetap bersahaja. Para bekas prajurid Pengging yang kini turun ke sawah dan tidak lagi mendapatkan gaji resmi, masih tetap siap sedia mengangkat senjata jika Ki Ageng memerintahkan. Pengging bagai wilayah tak bertuan.

Ki Ageng Tingkir, yang mendengar kabar tersebut, bertandang ke Pengging. Beliau menanyakan maksud keputusan Ki Ageng Pengging, adik iparnya. Dan Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sejujurnya, bahwasanya ia sudah tidak mau lagi terlibat dengan urusan tetek bengek politik. Beliau lilo legowo, menerima, untuk sekedar menjadi wong cilik, asal hidup lebih tenang dan jauh dari keserakahan duniawi.

Namun, Ki Ageng Tingkir mengingatkan. Pada kenyataannya, kondisi yang dialami Ki Ageng Pengging sekarang jauh lebih sulit. Jelas, beliau bukan lagi Adipati. Namun tugas-tugas seorang Adipati masih harus beliau jalankan. Tanpa hak kewenangan mengeluarkan kebijaksanaan. Tanpa hak mempunyai kekuatan perlindungan wilayah. Tanpa hak gaji penuh dari hasil pajak. Sesungguhnya, Ki Ageng Pengging, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk lepas dari kegiatan perpolitikan. Pihak Demak rupa-rupanya sengaja membuat status Pengging menggantung seperti itu. Dan apakah kondisi seperti ini yang diinginkan ?

Ki Ageng Pengging terdiam. Dan Ki Ageng Tingkir menyarankan, apabila memang sudah mantap dengan keputusannya, seyogyanya, segera meminta kepada Sultan Demak untuk memberikan keputusan pasti mengenai Pengging. Dan itu berarti, Ki Ageng harus melayangkan surat ke pemerintah pusat. Atau kalau perlu, menghadap langsung Sultan Demak.

Dan Ki Ageng Pengging tampak enggan. Melihat keengganan di wajah adik iparnya, Ki Ageng Tingkir mengingatkan sekali lagi dengan nada agak keras :

“Jika memang dhimas masih menginginkan tahta, jangan setengah-setengah lagi. Ingat, kakang siap dibelakang dhimas!”

Dan Ki Ageng Tingkir mohon diri.

Dan itulah terakhir kali Ki Ageng Pengging melihat kakak iparnya. Dua bulan kemudian, Ki Ageng Tingkir wafat. Ki Ageng Tingkir sudah memeluk Islam. Manakala jenazah hendak dimandikan, Ki Ageng Pengging berbisik ditelinga kanan jenazah kakak iparnya :

“Kakang Tingkir, antinen sedhela maneh. Ingsun bakal nusul bebarengan nyabrang segara rahmat.”

(Kakang Tingkir, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyusulmu untuk bersama-sama mengarungi

lautan Kasih.)

Kelahiran Ki Mas Karebet

Istri Ki Ageng Pengging, yang sudah mengandung beberapa waktu lalu, sudah saatnya melahirkan. Kelahiran putra pertama Ki Ageng Pengging ini disambut gemuruh suka cita rakyat Pengging. Upacara kelahiran-pun digelar sangat meriah. Beberapa Pandhita Shiva Buddha datang tanpa diundang demi untuk memberikan doa-doa keselamatan. Hadir pula Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Mereka yang beragama Shiva Buddha dan Islam, bercampur, bersuka ria menyambut kelahiran putra Ki Ageng.

Pertunjukan Wayang Beber ( wayang yang diceritakan dengan cara membentangkan gambar. Beber artinya Bentang. Wayang Beber artinya Wayang yang dibentangkan : Damar Shashangka. ) digelar hingga tujuh malam.

Ki Ageng Pengging, memberikan nama Ki Mas Karebet kepada putranya. Karebet adalah nama lain dari Wayang Beber. Wayang Karebet sama artinya dengan Wayang Beber. ( Kelak, Ki Mas Karebet terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Setelah berhasil menjadi Sultan Pajang, lantas bergelar Sultan Adiwijaya : Damar Shashangka. )

Pada malam ke tujuh, menjelang dini hari, manakala pertunjukan Wayang hamper usai, para tamu dikejutkan dengan jatuhnya seberkas cahaya dari langit menuju Dalem Agung. Cahaya yang sangat jelas itu meluncur dari atas langit, bergerak cepat, mengarah atap Dalem Agung dimana Ki Mas Karebet ada didalam sana. Dan Cahaya itu lenyap tepat setelah menyetuh atap. Para tamu geger!

Hampir semua para tamu yang masih terjaga, melihat cahaya itu. Yang tertidur cepat-cepat dibangunkan teman-teman mereka. Kejadian yang langka ini segera menyita perhatian semua yang tengah bersuka cita menyambut kelahiran Ki Mas Karebet. Semua tamu-pun sibuk memperkirakan, cahaya apa yang barusan terlihat. Sinarnya terang sedikit kebiru-biruan. Kepercayaan masyarakat Jawa menyebut cahaya itu ANDARU KILAT, atau cukup disebut NDARU. Suatu cahaya yang membawa ‘Wahyu Keprabhon’ atau tanda bahwa dimana kediaman orang yang kejatuhan ANDARU KILAT, sudah bisa dipastikan, kelak akan menjadi Penguasa Agung. Menjadi seorang Raja Besar!

Para Pandhita segera memerintahkan untuk segera merakit sesajen sebagai sarana pelaksanaan sembahyang syukur . Hyang Widdhi Wasa, telah memberikan kepercayaan besar kepada keturunan Ki Ageng Pengging kelak, untuk menjadi Raja Tanah Jawa!

Menjelang pagi hari, begitu pertunjukan Wayang Beber usai, upacara persembahyangan pun digelar! Mantram-mantram Weda terlantun syahdu pagi-pagi buta. Semua tamu yang beragama Shiva Buddha, ikut serta melaksanakan persembahyangan. Dupa mengepul. Merebak mewangi kesegenap penjuru. Suara genta Sang Pandhita berdenting-denting mengiringi ucaran-ucaran mantra.

Duta Demak Bintara

Tiga tahun sudah berlalu. Dan tiga tahun sudah Ki Ageng Pengging harus mengelola Pengging tanpa status yang jelas. Mas Karebet, tumbuh menjadi bayi yang sehat dan montog. Kulitnya yang putih bersih, tubuhnya yang mungil dan tawanya yang menggemaskan, sangat-sangat menghibur Ki Ageng Pengging beserta istri beliau. Kehidupan Ki Ageng Pengging benar-benar bahagia. Hyang Widdhi melimpahkan kedamaian cinta kasih dalam keluarga beliau.

Namun, lain lagi situasi di Demak Bintara. Tenggang waktu yang diberikan Sultan Demak kepada Ki Ageng Pengging, telah sampai kepada batasnya. Sultan Demak merasa perlu untuk mengambil tindakan tegas. Ki Ageng Pengging, telah dianggap ‘mbalelo’ atau membangkang perintah Sultan!

Setelah menggelar siding dengan para pembesar Kesultanan. Sultan Demak segera mengirim utusan ke Giri Kedhaton, meminta restu Sunan Giri, pemimpin Dewan Wali Sangha, untuk memberi wewenang mengambil keputusan tegas kepada Ki Ageng Pengging. Dan, Dewan Wali merestuinya.

Pada hari yang dipilih, Sultan Demak mengutus Senapati Agung Demak Bintara, Sayyid Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus untuk menemui Ki Ageng Pengging. Perintah yang diberikan sangatlah tegas, yaitu memerintahkan Ki Ageng Pengging untuk menghadap ke Demak Bintara. Apabila tetap bersikukuh dengan keengganannya, maka Senapati Demak diberikan wewenang penuh untuk menyingkirkan Ki Ageng Pengging, yang sudah dianggap sebagai pembangkang!

Diiringi tujuh ratus prajurid pilihan Demak Bintara dengan persenjataan lengkap siap tempur, berangkatlah Sunan Kudus ke Pengging!

Tidak diceritakan dalam perjalanan, Sunan Kudus beserta prajurid pilihan Demak Bintara, akhirnya sampai diwilayah Pengging. Malam telah menjelang. Hal ini memang sudah direncanakan oleh Sunan Kudus, yaitu tiba di Pengging tepat malam hari. Setelah beristirahat sejenak, Sunan Kudus memerintahkan pasukan membagi empat kelompok. Masing-masing ditempatkan di keempat penjuru arah, mengepung Pengging! Seluruh prajurid segera bergerak menempati pos masing-masing. Pengging, dalam sekejap telah terkepung dari semua arah!

Namun, gerakan pasukan Demak ini diam-diam diketahui oleh beberapa masyarakat Pengging mantan prajurid. Secepatnya mereka menghubungi mantan Lurah Prajurid Pengging, melaporkan gerak pasukan tak dikenal yang terlihat telah mengepung wilayah Pengging! Mantan Lurah Pengging segera menghadap ke Dalem Agung.

Malam itu, Ki Ageng Pengging mendapat laporan dari mantan Lurah Prajurid Pengging, bahwasanya, wilayah Pengging, telah dikepung dari empat penjuru oleh sepasukan tak dikenal! Dan mantan Lurah Prajurid memperkirakan, mereka adalah pasukan dari Demak Bintara!

Mantan Lurah Prajurid memohon kepada Ki Ageng untuk memerintahkan sesuatu kepada mereka. Dan Ki Ageng memerintahkan agar tetap tenang. Beliau tidak mau ada pertumpahan darah. Yang diincar pasukan Demak adalah dirinya. Maka, Ki Ageng meyakinkan mereka, beliau akan menyelesaikan permasalahan ini secara damai. Namun, tidak ada salahnya para mantan prajurid Pengging disiagakan malam ini juga!

Mantan Lurah Pengging, mendengar jawaban Ki Ageng Pengging, segera bergegas mohon undur. Dengan menggunakan sandi suara burung malam tiruan, suara sandi prajurid Pengging dulu, mantan Lurah Pengging, memerintahkan beberapa orang yang kebetulan bersamanya untuk memberi peringatan tanda bahaya kepada segenap mantan prajurid yang kini tengah tertidur lelap dikediaman masing-masing!

Dari rumah kerumah, begitu mendengar bunyi sandi suara burung malam tiruan, para bekas prajurid Pengging terjaga! Kalaupun ada yg tidak terjaga saking lelapnya tertidur, istri maupun keluarga yang lain segera membangunkan mereka! Para mantan prajurid ini sudah terbiasa mendengar isyarat suara burung malam tiruan tersebut. Yaitu suara yang dibuat oleh beberapa prajurid untuk memperingatkan agar seluruh prajurid waspada dan siaga!

Disana-sini, diseluruh Pengging, para mantan prajurid seketika terbangunkan. Masing-masing segera mengenakan pakaian tempur dan mengambil senjata masing-masing yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah mereka pergunakan lagi!

Kini, tinggal menunggu suara tersebut terdengar lagi. Jika kembali terdengar, maka pertanda, seluruh prajurid harus menempati pos mereka dahulu. Pos masing-masing. Namun, bunyi yang dinanti-nantikan, tidak juga kunjung terdengar. Para mantan prajurid Pengging, yang sudah siap sedia dirumah masing-masing, terjaga semalaman suntuk!!

(Inilah kejadian sesungguhnya yang terjadi waktu itu. Dalam Babad Tanah Jawa, hanya diceritakan, begitu Sunan Kudus dan bala tentara Demak tiba dipinggiran wilayah Pengging, mereka serta merta membunyikan gong Kyai Sima. Sima berarti Harimau. Dan bunyi gong tersebut menggema kesegenap wilayah Pengging pada malam hari itu juga, sehingga seluruh masyarakat Pengging tidak bisa tidur semalam suntuk karena ketakutan. Padahal yang dimaksud, bahwasanya kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak diwilayah Pengging, bagaikan seekor Harimau yang tengah mengincar mangsanya, yaitu Ki Ageng Pengging. Dan kedatangannya dimalam hari, sudah diketahui oleh para prajurid Pengging. Babad Tanah Jawa sendiri, ternyata juga mencoba merendahkan Pengging dengan cerita bernuansa mistis. : Damar Shashangka)

Dan, Sunan Kudus yang berpengalaman, juga telah menyadari bahwa kehadirannya beserta tentara Demak telah diketahui masyarakat Pengging. Seluruh pasukan Demak, melalui kurir-kurir khusus yang diutus dari pos ke pos lain, diperintahkan untuk siap tempur! Namun, dilarang menyerang dahulu apabila tidak diserang!

Seluruh Lurah Prajurid pemimpin pos, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat, setelah menerima pesan kurir, segera memerintahkan seluruh pasukan untuk siap tempur!! Busur dan anak panah telah terpasang! Senjata telah terhunus! Tinggal menunggu komando selanjutnya!!

Di Pihak Pengging, melihat gelagat pasukan asing yang dicurigai berasal dari Demak Bintara, ternyata juga mengambil sikap serupa!Para Lurah Prajurid Pengging, terus mengamati seluruh pasukan asing yang mengepung wilayah Pengging ini. Mereka memutuskan, tidak akan menyerang apabila mereka tidak diserang! Dan bunyi sandi suara burung malam tiruan, tidak juga segera terdengar lagi!!!

Kedua pihak, siap ditempat masing-masing. Tidak ada yang bergerak mendahului. Menanti perkembangan selanjutnya! Baik di pihak Demak maupun di pihak Pengging, semalam itu, suasana sangat mencekam!!

Menjelang pagi, Para Lurah Prajurid Pengging menemui Ki Ageng Pengging. Mereka meminta petunjuk selanjutnya. Dan Ki Ageng Pengging, mengutus seorang Lurah Prajurid beserta beberapa prajurid pilihan untuk menemui pemimpin pasukan yang mengepung wilayah beliau semenjak semalaman.

Seorang Lurah Prajurid Pengging, diiringi beberapa prajurid pilih tanding, segera menuju pos pasukan Demak terdekat. Mereka menemui Lurah Prajurid Demak yang kebetulan bertugas memimpin pos utara dan menyatakan ingin bertemu pemimpin pasukan Demak atas permintaan Ki Ageng Pengging. Lurah Pasukan Demak segera mengirim kurir ketempat mana Sunan Kudus berdiam diri. Sunan Kudus mengijinkan, dan Lurah Prajurid Pengging dengan pasukannya, diiringi beberapa pasukan Demak, segera menuju ke tempat Sunan Kudus. Lurah Prajurid Pengging, sekarang semakin yakin, bahwa pasukan yang tengah mengepung wilayah Pengging adalah benar-benar dari Demak Bintara!

Setelah bertemu muka dengan Sunan Kudus, Lurah Prajurid Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus diwilayah Pengging. Dan terang-terangan Sunan Kudus menjawab, dia diperintahkan oleh Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak!

Lurah Prajurid Pengging sedikit mengungkapkan ketidak senangannya dengan cara kedatangan pasukan Demak yang mengepung Pengging seperti itu. Seolah-olah, Pengging adalah wilayah pembangkang, pemberontak dan siap untuk dilumatkan!

Dan Sunan Kudus menjawab :

“Kalian hanya rakyat kecil. Ini urusan orang besar. Sudah jangan ikut campur. Antarkan aku menemui Ki Ageng Pengging!”

Walau dengan hati panas, Lurah Prajurit Pengging segera mengantarkan Sunan Kudus menemui Ki Ageng Pengging.

Pagi itu, Ki Ageng Pengging baru usai sembahyang. Masih tampak bunga segar terselip ditelinga kanannya. Lurah Prajurid Pengging yang diutus menemui pasukan Demak, menghadap. Dia melaporkan bahwa Sunan Kudus, Senapati Agung Demak Bintara, datang untuk bertemu dengan Ki Ageng Pengging pribadi.

Ki Ageng Pengging mempersilakan Senapati Agung Demak Bintara itu menemui beliau di Dalem Agung.

Sunan Kudus, diiringi beberapa prajurid Demak segera menuju Dalem Agung. Lantas, setelah dipersilakan masuk oleh Ki Ageng Pengging, Sunan Kudus-pun masuk ke bilik dalam. Prajurid pengiring dari Demak, menunggu diluar.

Ki Ageng Pengging, memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan hidangan bagi Sunan Kudus dan beberapa prajurid Demak yang tengah berjaga-jaga diluar.

Didalam bilik Dalem Agung, Sunan Kudus kini duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Ki Ageng Pengging. Setelah berbasa-basi sejenak, Ki Ageng Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak.

Sunan Kudus menegaskan, bahwasanya kedatangannya mengemban perintah Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak Bintara sesuai dengan tenggang waktu yang pernah diberikan oleh Sultan Demak melalui Ki Patih Wanasalam, tiga tahun yang lalu. Dan Sunan Kudus, tanpa basa-basi lagi menunjukkan surat perintah Sultan kehadapan Ki Ageng Pengging langsung!

Ki Ageng Pengging tersenyum. Beliau kembali menyatakan bahwa, sudah tidak ada perlunya beliau menghadap ke Demak. Karena semenjak tiga tahun lalu, beliau bukan siapa-siapa lagi. Beliau hanya sekedar orang desa, yang tengah menjalani kehidupan bersahaja, tidak ada kaitan sama sekali dengan perpolitikan Negara. Beliau hanyalah seorang pertapa biasa. Mengapakah Sultan Demak sangat-sangat berkepentingan dengan orang seperti dirinya? Seorang pertapa desa yang tidak ada keistimewaannya apapun.

Sunan Kudus meragukan kata-kata Ki Ageng Pengging. Sunan Kudus meminta bukti kalau memang Ki Ageng Pengging memang seorang pertapa biasa. Dan Sunan Kudus menantang berdebat tentang Ilmu Sejati dengan Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging menerima tantangan tersebut.

Dan terjadilah Tanya jawab tentang Ilmu Sejati. Sunan Kudus melempar pertanyaan dan Ki Ageng Pengging menjawabnya. Dan jawaban-jawaban Ki Ageng Pengging, beberapakali sempat membuat Sunan Kudus terperangah.

Pada suatu kesempatan, Sunan Kudus melemparkan pertanyaan simbolik sebagai berikut :

Kalamun Ingsun kapanggih kalawan kekasihingwang,

Dadi Kawula pan mami,

Kalamun Ingsun kapisah kalawan kekasih mami,

Sun dadi Ratu,

Ratu Ratuning sabumi,

Ratu Angratoni Jagad.

(Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan kekasih-Ku,

Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),

Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan kekasih-Ku,

Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,

Raja Diraja seluruh bumi,

Raja Yang Merajai Jagad Raya. )

Siapakah Ingsun ( Aku ) dan siapakah kekasih-Ku ?

Ki Ageng Pengging tersenyum dan menjawab :

Ingsun ya Ingsun,

Datan ana roro telu,

Kasebut Hyang Paramashiwah, Hyang Sadashiwah lan Hyang Atma,

Telu-telune jatine Tunggal!

(Ingsun ( Aku ) adalah Ingsun ( Aku ),

Tiada lagi yang kedua maupun ketiga,

Disebut juga Hyang Paramashiva, Hyang Sadashiva dan Hyang Atma,

Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu!)

Kasebut ugi Allah, Rasul lan Mukhammad,

Telu-telune Tunggal uga!

(Disebut juga Allah, Rasul dan Mukhammad,

Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu juga!)

Kang ingaranan kekasihingwang,

Ya jisim ya suksma,

Yen Ingsun kapanggih kalawan jisim lan suksma,

Ingsun dadya Kawula,

Yen Ingsun kapisah kalawan jisim lan suksma,

Ingsun Pan dadya Ratu,

Ratu Ratuning Jagad,

Ya Brahman Ya Allah,

Tan liyan saking punika!

(Yang disebut kekasih-Ku,

Adalah Jasad dan Suksma,

Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan Jasad dan Suksma,

Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),

Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan Jasad dan Suksma,

Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,

Raja Diraja Semesta,

Ya Brahman Ya Allah,

Tiada lain dari itu!)

Sunan Kudus tersenyum mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Dan perdebatan semakin panas!

(4)

Sunan Kudus bertanya.

“Ana Curiga kalawan Warangka. Yen mung katon Warangka, aneng ngendi Curiganira?”

(Ada Keris dan Warangka. Manakala hanya terlihat Warangka, dimanakah Kerisnya ?)

Ki Ageng Pengging menjawab,

“Amanjing Warangka. Manunggal anyawiji!”

(Masuk kedalam Warangka. Manunggal menjadi satu!)

Sunan Kudus tersenyum, lantas bertanya lagi.

“Yen mung katon Curiga, aneng ngendi Warangkaneki?”

(Manakala hanya terlihat Keris, dimanakah Warangkanya? )

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!”

(Masuk ke dalam Keris. Manunggal menjadi satu ! )

Kemudian Sunan Kudus bertanya.

“Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?”

(Manakala hilang musna keduanya, berada dimanakah?)

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Dumunung aneng Urip!”

(Berada didalam Hidup!)

Sunan Kudus tertawa. Lantas dia bertanya lagi..

“Ana ing ngendi dununging Urip?”

(Dimanakah tempat kediaman Hidup?)

Ki Ageng pun menjawab.

“Ana Ing Galihing Kangkung,

Ana Ing Gigiring Punglu,

Ana Ing Susuhing Angin,

Ana Ing Wekasaning Langit.

(Berada di inti tumbuhan Kangkung,

Berada di sudut Pelor,

Berada di Kediaman Angin,

Berada di akhir Langit. )

(Tumbuhan Kangkung berlobang dibagian tengahnya, lantas dimanakah intinya tumbuhan kangkung? Pelor atau mimis jaman dulu, berbentuk bulat, lantas dimanakah sudutnya? Angin senantiasa bergerak, lantas dimanakah kediamannya ? Langit tanpa batasan, lantas dimanakah akhir langit? Inti Kangkung, Sudut Pelor, Kediaman Angin dan Akhir langit, disitulah tempat kedudukan Hidup berada. : Damar Shashangka )

Kembali Sunan Kudus tersenyum, dan Sunan Kudus belum puas. Kembali dia melempar pertanyaan.

“Yen ilang Alip, lebur marang Lam Awal lan Lam Akhir. Ilang Lam Awal lan Lam Akhir, lebur marang Ha’. Yen lebur Ha’ dumunung aneng ngendi?”

(Jika hilang huruf Alif, maka lebur kedalam Lam Awwal dan Lam Akhir. Jika hilang Lam Awwal dan Lam Akhir, lebur kedalam Ha’. Jika lebur Ha’, berada dimanakah ? )

Ki Ageng menjawab.

“URIP!”

(Hidup!)

Sunan Kudus menyela.

ALIP Jisimingsun!”

(ALIP Jasad-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

ANG Raganingsun!”

(ANG Raga-Ku! )

Sunan Kudus menyela lagi.

LAM AWAL lan LAM AKHIR Napsuningsun!”

(LAM AWWAL dan LAM AKHIR Nafs-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

UNG Suksmaningsun!”

(UNG Suksma-Ku ! )

Sunan Kudus menimpali lagi.

HU Ruhingsun !”

(HU Roh-Ku ! )

Ki Ageng menimpali juga.

MANG Atmaningsun!”

(MANG Atma-Ku ! )

Sunan Kudus.

ALLAH Asmaningsun!”

(ALLAH Nama-Ku ! )

Ki Ageng Pengging.

HONG Asmaningwang!”

(HONG Nama-Ku ! )

Sunan Kudus.

ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU…………ALLAH!

Ki Ageng Pengging.

ANG, UNG, MANG………….HONG!


ANG,UNG,MANG, HONG (AM,UM,MAM,AUM)

Sunan Kudus diam. Lantas menantang secara halus.

“Yen tebu weruh legine, yen endhog weruh dadare!”

(Apabila Tebu nyata manisnya, apabila telur nyata isinya!”

(Ungkapan ini adalah ungkapan khas Jawa, yang maksudnya meminta bukti nyata dari semua yang telah diucapkan : Damar Shashangka )

Ki Ageng tersenyum dan berkata : “ Sumangga ing karsa..” ( Silahkan..)

Ki Ageng Pengging lantas bersendekap dan meminta Sunan Kudus memperhatikan titik diantara kedua alis mata beliau. Lantas, Ki Ageng memejamkan mata.

Sunan Kudus awas, dia lekat memperhatikan titik diantara kedua alis mata Ki Ageng Pengging. Suasana mendadak berubah, ruangan dimana Sunan Kudus berada, terasa hampa, senyap dan seolah tanpa suara sama sekali. Beberapa detik kemudian, Sunan Kudus mendadak tersentak manakala dia melihat cahaya terang nan lembut memancar dari titik diantara kedua mata Ki Ageng Pengging!

Cahaya yang lembut itu menerobos kesadaran Sunan Kudus. Dan disana, ditengah hempasan cahaya tersebut, Sunan Kudus melihat dirinya berada disana. Sejenak kemudian berubah menjadi wujud Ki Ageng Pengging, lantas berubah lagi menjadi wujudnya!

Sunan Kudus menutup mata, namun penampakan itu menembus kelopak matanya yang terpejam. Sunan Kudus lantas berkata.

“Aku percaya nakmas Pengging…Sudah cukup!”

Ki Ageng Pengging tersenyum, dan cahaya lembut yang memancar dari titik ditengah kedua alis matanya tersebut, mendadak sirna tanpa bekas.

Sunan Kudus membuka matanya dan menatap Ki Ageng Pengging tajam, sembari berkata.

“Kabarnya, nakmas Pengging mampu MATI SAJERONING URIP. URIP SAJERONING PATI ?”

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Kangjeng Sunan, saya tahu, Kangjeng Sultan Demak menganggap saya sebagai ‘klilip’ (Penghalang) beliau. Tidak usah berbasa-basi lagi. Saya siap mati sekarang. Saya bisa mengakhiri kehidupanku saat ini juga. Tapi, kalau saya melakukannya, sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam keyakinan Shiwa maupun Islam, adalah hal yang tercela. Untuk itu, jadilah perantara kematianku!”

Sunan Kudus terdiam.

“Cabutlah keris Kangjeng,” lanjut Ki Ageng Pengging, “tusukkan siku kananku ini. Disaat ujung keris Kangjeng menancap disikuku ini, saat itulah, aku akan melepaskan suksma dan Atmaku dari jasadku. Silakan!”

Sunan Kudus segera mencabut kerisnya. Sedangkan Ki Ageng Pengging sejenak bersendekap memejamkan mata. Disusul, beliau angkat siku kanannya kedepan. Sunan Kudus menusukkan kerisnya kesiku Ki Ageng Pengging. Dan disaat itulah, Ki Ageng Penggin melepaskan suksma dan Atmanya!

Tubuh Ki Ageng Pengging rebah ke kanan. Sunan Kudus memeriksa detak jantung Ki Ageng Pengging, dan Sunan Kudus yang sudah berpengalaman yakin, bahwa Ki Ageng Pengging telah wafat. Sejenak beliau membenahi jasad Ki Ageng, lantas Sunan Kudus keluar dari bilik Dalam Agung.

(Silakan membaca cerita ini langsung dari Babad Tanah Jawa untuk perbandingan : Damar Shashangka )

Sesampainya diluar, Sunan Kudus segera memerintahkan prajurid Demak berkemas. Sunan Kudus dan para prajurid Demak, tanpa banyak berkata-kata, segera meninggalkan Dalem Ki Ageng Pengging.

Didalam bilik Dalem Agung, tepat pada saat itu, pelayan yang hendak menyediakan hidangan mohon masuk. Tapi tidak ada jawaban. Bergegas dia lari memanggil Nyi Ageng Pengging. Istri Ki Ageng Pengging berlari tergopoh-gopoh ke Dalem Agung, memancing perhatian beberapa prajurid Pengging. Karena tidak ada jawaban juga saat Nyi Ageng Pengging mohon masuk, maka segera saja beliau menerobos ke dalam. Dan terkejutlah Nyi Ageng Pengging melihat Ki Ageng Pengging telah terbujur kaku menjadi mayat!

Nyi Ageng Pengging jatuh pingsan. Beberapa prajurid Pengging tanpa dikomando segera berhamburan menaiki kuda masing-masing, menyusul rombongan Sunan Kudus.

Para Lurah Prajurid Pengging menyusul kemudian. Bendhe Beri ( Gong kecil yang dibunyikan untuk mengumpulkan para prajurid : Damar Shashangka ), suaranya riuh rendah bercampur dengan pukulan kentongan bertalu-talu. Masyarakat Pengging yang sudah siap sedia sejak semalam, baik yang sudah ada disekitar Dalem Ki Ageng Pengging maupun yang masih ada dirumah masing-masing, segera menaiki kuda masing-masing sembari membawa persenjataan perang lengkap!

Di pihak pasukan Demak, mendapati Bendhe Beri dan Kentongan berbunyi bertalu-talu, segera mempersiapkan diri. Walau belum tahu pasti apa yang terjadi, mereka telah siap sedia jika ptajurid Pengging menyerang!

Rombongan Sunan Kudus tersusul. Rombongan kecil Senopati Demak itu segera di kepung prajurid Pengging! Prajurid Pengging telah siap tempur! Senjata telah terhunus nyalang! Dada para prajurid Pengging bergemuruh mendidih!

Sunan Kudus memerintahkan seorang prajurid Demak mengibarkan bendera merah! Tanda bagi seluruh pasukan Demak yang ada disudut-sudut Pengging untuk siap tempur! Suasana tegang!

Bendera merah berkelebat-kelebat, disusul dari kejauhan, empat orang prajurid Demak mendadak muncul sembari memacu kuda dengan mengibarkan bendera serupa. Keempatnya meneruskan perintah Sunan Kudus yang tengah terkepung kepada para pasukan yang siap sedia disudut-sudut Pengging!

Isyarat itu terlihat oleh para pemimpin pasukan Demak, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat! Serta merta, seluruh pasukan Demak keluar dari tempat persembunyiannya. Bergemuruh suaranya! Diiringi pekikan-pekikan nama Tuhan! Seperti kebiasaan mereka!

Para prajurid Pengging yang mengepung Sunan Kudus, hanya melihat sepasukan dari dua arah, namun mereka mendengar suara pekikan-pekikan pasukan lain yang tak terlihat berada diseberang wilayah mereka. Mereka menyadari, posisi mereka kini terkepung! Wilayah Pengging benar-benar terkepung!!

“Heh kalian rakyat Pengging!! Kaliah hanya rakyat biasa! Ini urusan orang besar! Kembalilah pulang ke rumah masing-masing!!” Teriak Sunan Kudus!

Seorang Lurah Prajurid Pengging maju beberapa langkah dengan kudanya.

“Bagi kami lebih baik mati bersama junjungan kami!”

Sunan Kudus menjawab.

“Ingat posisi kalian! Kalian sudah terkepung! Dan ingat pula akan anak istri kalian! Jika pasukan Demak menyerang, seluruh wilayah ini akan dibakar! Kalian boleh berani menumpahkan darah kalian! Tapi apakah kalian juga akan tega melihat anak istri kalian ikut menjadi korban !?”

Nyali prajurid Pengging menciut begitu mendengar gertakan Sunan Kudus! Seketika mereka teringat akan anak istrinya yang kini juga tengah terkepung dan terancam! Seluruh pasukan Pengging menjadi gamang! Sunan Kudus melihat itu semua, lantas Sunan Kudus berkata lagi.

“Sarungkan senjata kalian! Urusan kami hanya dengan Ki Ageng Pengging! Uruslah jenazah junjungan kalian! Kangjeng Sultan Demak, akan memberikan pengampunan bagi kalian semua!”

Kepanikan melanda prajurid Pengging. Bayangan anak dan istri mereka membuat keberanian mereka menciut! Dan, Lurah Prajurid Pengging yang paling senior segera memerintahkan seluruh prajurid Pengging menyarungkan senjata. Disusul, Lurah Prajurid Pengging memerintahkan memberikan jalan kepada rombongan Sunan Kudus yang terkepung.

Sunan Kudus segera memerintahkan pasukan bergerak kedepan! Bendera putih kini dikibarkan! Disusul beberapa prajurid dari kejauhan kembali meneruskan pesan itu sembari membawa bendera putih juga! Dan pemimpin pasukan Demak yang telah bersiap-siap diposisi masing-masing, begitu melihat bendera merah berganti bendera putih, segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk menyarungkan senjata!

Pekik nama Tuhan berkumandang berkali-kali! Pasukan Demak merasa telah memenangkan pertempuran atas berkat Tuhan!

Dipihak lain, prajurid Pengging masih menyimpan bara amarah! Seandainya mereka berhadap-hadapan digaris depan seperti saat peperangan Majapahit dan Demak dulu, pasti mereka tak segan-segan menumpahkan darah!

Terdengar teriakan Lurah Prajurid Pengging memerintahkan seluruh prajurid kembali ke Pengging.

Duka menyelimuti Pengging. Jenasah Ki Ageng Pengging segera disucikan. Upacara Sraddha tergelar. Para Pandhita Shiwa Buddha berdatangan. Pengging berkabung! Para sisa bangsawan Majapahit, mendengar kabar wafatnya Ki Ageng Pengging, segera menuju Pengging. Upacara pembakaran mayat-pun dilaksanakan.

Sebulan setelah wafatnya Ki Ageng Pengging, Nyi Ageng Pengging yang jatuh sakit, menyusul. Beliau wafat! Kembali Pengging berduka. Mendung menyelimuti Pengging.

Mas Karebet, menjadi yatim piatu. Dan Nyi Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir, membawa Mas Karebet kecil ke Tingkir. Mas Karebet diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir. Mas Karebet lantas dikenal dengan nama JAKA TINGKIR.

Kelak dikemudian hari, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, berhasil mendirikan Kesultanan Pajang dan menjadi Raja Tanah Jawa. Dan beliau bergelar SULTAN ADIWIJAYA.

(Tamat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s