Tumpeng dan Filosofinya

Posted: June 22, 2010 in Budaya
Tags: ,

Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam,antara lain :

tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong.

Tumpeng sarat dengan symbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng robyong disering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (Tasyakuran).Tumpeng Robyong merupakan symbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih danlauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik, yaitu:

Nasi putih:

berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapatmenyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.

Ayam:

ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan symbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh”rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk (yang dilambangkan oleh, red) ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Ikan Lele:

Dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan banding atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan symbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.

Ikan Teri / Gereh Pethek:

Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.

Telur:

telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong – sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang
jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan urab-uraban:

Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung symbol-simbol antara lain:
Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai.
Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,
Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative,
Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain.
Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di manapun orang berada, meski harus merantau, harus lah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

Comments
  1. Budak Angon says:

    Sy orang Islam, mendapatkankan beberapa pusaka dari para sepuh yg tdk sy kenal.
    Menurut orang tua dan juga pusaka2 Semar/Sabdopalon dan pusaka2 yg lainnya, saya adalah sosok inkarnasi raja Majapahit?
    Oleh krn itu banyak pusaka yg datang ke rumah, yg notabene pusaka tsb mengandung informasi2 penting, oleh karena itu, kiranya mohon pencerahan.
    Salah satu pusaka telah kami terima dari gunung mahameru.
    Konon pusaka ini datang khusus disampaikan kpd sy sebagai cucu kesayangan? dari penguasa gunung mahameru. Menjadi tanda tanya sy, siapa penguasa gunung Mahameru?

    Kemudian sy baca di beberapa tulisan, ttg sejarah Majapahit yg mengenal agama Siva-Buddha, semakin tidak mengerti ttg ini, mengingat sy org islam. Kemudian sy disodorkan ttg cara2 jawi berupa suguhan2 yg mengandung makna yg dalam, ini membuat sy bingung.
    Menurut sy, jika sy salah menyuguhkan sesuatu tanpa tahu arti makna dari setiap suguhan bisa berbahaya buat diri sy. Krn suguhan merupakan doa, permohonan, sumpah atau janji yg mengandung konsekwensi/dampak yg buruk jika diingkari oleh pelaku doa.
    Beda dgn org sekarang, apa diucapkan di mulut baik berupa doa, permohonan atau janji, setelah tujuannya tercapai gampang mengikarinya. Terkadang sumpah presiden atau pejabat negara di kepalanya di taruh Al-Qur’an dan ternyata setelah jadi pejabat tetap saja akhlaknya masih bejat. Yg membuat heran, ketika disumpah pakai Al-Qur’an? akan tetapi ketika org yg disumpah melanggar sumpah tidak terjadi apa2 atau misalnya azab/kutukan? seger bugar malah badannya gemuk? apa Al-Qur’annya gak ada tuahnya?
    Coba sewaktu di sumpah pakai suguhan2 ala jawa, mungkin akan ada dampaknya?
    Sehingga pejabat2 akan kapok melakukan pelanggaran?

    Disodori pusaka, sy sendiri nggak mengerti ttg makna pusaka, krn pemberian pusaka ini sy anggap merupakan amanah mk sy terima dgn iklas.
    Dalam mensikapi sebuah pusaka, sy mengesampingkan isi/penghuni pusaka yg berupa Jin. Akan tetapi sy lebih tertarik dgn isi/penguhuni pusaka yg berupa cahaya.
    Ada apa dgn cahaya? cahaya menurut yg sy baca adalah nur/sifat/nafsu/dewa/yg berasal dari Nurullah. Sebagai contoh adalah manusia. Manusia bisa aja dihuni oleh iblis, jin, malaikat dan 4 cahaya inti dan pancer.
    Menurut analisa sy, kenapa manusia bisa berbicara, berakhtifitas krn 4 cahaya inti (merah, hitam, kuning dan putih) yg ada di diri manusia itu telah menyatu atau disatukan oleh Allah. Bagaimana caranya Allah menyatukan 4 cahaya inti tsb? dengan cara diikat oleh cahaya juga, yg disebut dgn malaikat rohman dan malaikat katibin.
    Jika salah satu dari 4 cahaya inti tsb tidak menyatu, misalnya warna kuning pergi, apa yg terjadi? maka manusia akan tidur sepanjang masa. dan jika warna kuning tsb masuk kembali kedalam diri manusia, maka manusia akan terbangun/bisa beraktifitas lagi.
    Pemahaman ini yg banyak dimengerti oleh orang2.

    Dan kebanyakan dari sekian manusia yg mengenal pusaka/keris, mereka tidak mengenal adanya cahaya2 yg ada di diri keris, mrk lebih mengenal makhluk JIN atau siluman yg berada di dalam keris.
    Sehingga ada kesan miring atau negatif dari org2 Islam jika melihat org memegang keris karena dianggap sbg sirik dll. Saran sy memang benar, agar berhati2 memilih keris karena kebanyakan berisi jin dan siluman yg ganas, bisa menyesatkan manusia.
    Disamping itu, Al-Qur’an telah menyebutkan adanya isi/penghuni “besi” / keris yg terdapat pada Surah Al-Hadid (besi) 25, yg berupa rasul-rasul Allah.

    Tadi di atas, sudah sy ceritakan ttg isi/penghuni keris, bisa jin, siluman dan cahaya, akan tetapi jangan lupa disamping terdapat isi/penghuni tsb, keris/pusaka juga terdapat pesan tertulis (scr ghaib) ttg sejarah2, juga suguhan2.

    Yang sy mau tanyakan ttg suguhan yg terdapat di salah satu keris kiriman dari gunung mahameru itu adalah :
    1. Kelapa
    2. Air putih
    3. Tempe Bacem
    4. Teh tubruk
    5. Dewa Siva berkepala 3

    Mohon pencerahan, apa makna dari lambang 1 s/d 5 tsb. agar tdk salah sebut, karena kalimat tanpa makna adalah tidak berarti. Terimakasih.

    Subhanalloh ada 4 cahaya,

    • sketsalaku says:

      Akan coba saya jawab sepengetahuan saya ya mas, karena saya bukan ahli pusaka dan sesajen. Di blog ini saya coba menyuguhkan hal2 luhur yang mulai ditinggalkan oleh orang nusantara karena di cap musrik dan sebagainya karena tidak tertulis dalam kitab2 agama yang datang ke nusantara terutama agama samawi ( Nasrani, Islam ). Nenek moyang nusantara sudah mengenal Tuhan Yang Maha Esa jauh sebelum agama-agama di beri nama Hindu, Buddha, Islam dan Nasrani. Hal ini bisa mas cari referensinya di internet ataupun percakapan dengan orang2 yang tahu.

      Distorsi pemaknaan sesajen dan tradisi-tradisi nusantara lainnya terjadi karena berbagai hal salah satunya karena munculnya agama2 di Nusantara, ini pendapat saya pribadi ya mas. Benar tidaknya silahkan dicari dan dibuktikan mas.

      Sepengetahuan saya :

      Pusaka yang masih ada ‘isi’ nya kalau dalam literatur jawab sering disebut yoni ( bukan yoni versi Hindu ) biasanya begitu kalau orang2 tua menyebutnya. Yoni ini kalau empu membuatnya biasanya terbentuk dari lelaku dan doa, bukan dari sengaja diisi. Yoni ini bisa berwujud macam2 sesuai dengan ‘kedalaman’ orang yang melihatnya. Bisa berbentuk sinar dan wujud yang lainnya.

      Sepengetauan saya tentang sesajen diatas :

      sajen seperti itu berasal dari hindu

      dan di peruntukan bukan untuk dewa

      tapi diperuntukan untuk dahnyang

      bernama smro…..

      berwujud ular naga

      sepengetahuan saya lagi :

      secara filosofi ( yg masih butuh pendalaman sendiri ) :

      kelapa : sirah/mustoko ( kepala )
      air putih ; wening ati, ( beningnya hati )
      teh tubruk ; teh/abang/getih sing reget kudu di beningke utawa diendapke ( yang kotor harus diendapkan )
      tempe bacem ; legine urip ( manisnya hidup )
      sirah siwa 3 ; seperti triloka, tritunggal, trinitas ( Islam reference : alif, lam, mim )

      Akhir kata hal-hal yang saya tulis diatas hanyalah sebagai referensi umum, yang tau makna dan arti yang sesungguhnya arti dari sesajen itu mas dan yang menghuni pusaka itu. Silahkan ditayuh ( diajak berkomunikasi ).

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s