SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYECH SITI JENAR ( 2 )

Posted: June 30, 2010 in Sejarah
Tags: ,

lanjutan

(3)

Ucapan Syeh Siti Jenar sangat besar dampaknya bagi image beliau. Kubu PUTIHAN semakin getol menghakimi kubu ABANGAN.

Sesungguhnya memang apa yang diucapkan beliau, terlalu tinggi untuk didengar oleh mereka-mereka yang baru saja mengenal spiritualitas. Namun, pada hakikatnya, memang benarlah apa yang beliau ucapkan.

Siapakah DIA YANG TAK TERBAYANGKAN itu? Siapakah RUH manusia itu? Sesungguhnya tiada beda. Ibarat udara yang terkurung dalam sebuah karet sintetis mainan anak-anak yang biasa disebut Balon, dengan udara bebas yang ada ditempat terbuka. Apakah kita bisa membedakannya? Sebuah karet sintetis yang bernama Balon, ibarat Suksma Sariira ( Badan Halus) dan Sthula Sariira (Badan Kasar) manusia. Dan udara yang terkurung didalamnya ibarat Atma Sariira ( Ruh ). Dan udara yang ada ditempat terbuka adalah Brahman itu sendiri.

Suksma Sariira dan Sthula Sariira, keduanya adalah produk Prakrti, produk Alam, yang muncul karena diadakan, karena diciptakan. Dan sesuatu yang diadakan, diciptakan dari ketiadaan, pasti akan memiliki limitasi, memiliki batas kegunaan. Dan pada saatnya, pasti akan berakhir. Oleh karenanya, kedua produk ini disebut produk Maya, produk khayalan, produk fana.

Sedangkan Atma Sariira (Ruh), tidak diciptakan. Tidak diadakan. Dari dulu ada, sekarang dan sampai selamanya. Atma Sariira adalah bagian yang tak terpisahkan dari Brahman. Apabila Atma Sariira masih terbelenggu oleh Suksma Sariira dan Sthula Sariira, tampaklah ia sebagai MANUSHA. Namun, apabila Atma Sariira ( Ruh ) telah lepas dari belenggu Suksma Sariira dan Sthula Sariira, maka apakah bisa dibedakan lagi mana Atman mana Brahman? Keduanya sudah MENYATU LAGI. Sudah MANUNGGAL lagi. Inilah MANUNGGALING KAWULA GUSTI!.

Setiap kali Syeh Siti Jenar berdzikir dgn sendirinya beliau menangkap suara dzikir yg berbunyi lain. Subhani, Alhamdu li, La ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (Maha Suci Aku, segala puji untuk- Ku, tiada Tuhan selain Aku, Maha besar Aku, sembahlah Aku). Walaupun telinga beliau mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, Al-hamduli Allahi, La ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar sebaliknya, sebagai esensi bunyi hadist : “Man ‘arafa Nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” ( Siapa yang mengenal Diri Sejatinya, sungguh dia telah tahu siapa Tuhannya). Dan Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Nabi Muhammad yang berbunyi : “Al-Insan sirri wa Ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Apabila sudah mencapai puncak spiritualitas seperti ini, apabila sudah mencapai maqam (tingkat) Tajjali ( Allah terlihat nyata) seperti ini. Maka, bisakah kita membedakan mana Jesus mana Bapa? Bisakah kita membedakan mana Siddharta Gautara mana Buddha? Bisakah kita membedakan mana Krishna mana Bhagavan? Bisakah kita membedakan mana Syeh Siti Jenar mana……………………………..Mengapa kita bertengkar? Mengapa kita saling merasa paling benar? Dan yang merasa paling benar adalah mereka yang baru mempelajari kulit Islam, kulit Hindhu, kulit Buddha dan kulit Kristen. Mereka belum menemukan ‘Puncak Kesadaran’ yang seharusnya mereka cari. Yang menjadi tujuan pengajaran Krishna, Buddha, Jesus dan Muhammad. Mereka mengajarkan semua manusia untuk itu, bukan mengajarkan kulit luar yang berbeda-beda. Kulit luar hanya sekedar metode. Kulit luar hanya sebuah alat, sebuah sarana, untuk mencapai tujuan ini! Sadarlah!

Maka, bila Syeh Siti Jenar yang telah mampu melampaui belenggu Suksma Sariira ( Nafs ) dan Sthula Sariira ( Jasad ), walaupun nampaknya Atma ( Ruh ) beliau masih terkurung oleh kedua produk fana, produk Maya ini, namun sesungguhnya Ruh beliau telah MENYATU lagi dengan Maha Ruh, yang dulu pernah meniupkan Ruh itu kedalam Nafs dan Jasad! Dalam Nafs atau Suksma Sariira beliau, hanya tersisa Nafs Muthmainnah ( Badan halus yang tenang ) atau Guna Sattva ( Watak suksma sariira yang stabil). Mengapa kita jadi terkecoh hanya karena beda istilah? Dari metode Islam, disebut Nafs Muthmainnah. Dari metode Hindhu disebut Guna Sattva. Apanya yang beda? Kecuali kalimatnya semata. Kecuali kulit luar yang berupa kata-kata semata. Sedangkan esensinya, SAMA! Maka, inilah yang saya maksud JANGAN TERJEBAK METODE! JANGAN DIPERBUDAK METODE! KARENA JIKA ANDA TERJEBAK! ANDA AKAN TERSESAT!

Kisah Syeh Siti Jenar-pun, berlanjut seperti dibawah ini :

Asmaradana

1. Syeh Lemah Bang nayogyani
Prapta ing ari Jumungah,
Nuju Ramadlan wulane,
Marengi tanggal ping lima,
Kumpule Pra Auliya’,
Anedheng kalaning dalu,
Ngrakit papan kang prayoga.

Syeh Lemah Bang menepati janji,
Datang pada hari Jum’at,
Tepat pada bulan Ramadlan,
Bersamaan dengan tanggal lima,
Kumpulnya Para Auliya’,
Pada waktu malam hari,
Telah disiapkan tempat yang sepatutnya.

2. Sakehing Para Wali,
Samya paguneman Rahsa,
Ing Giri Gajah enggone,
Akarsa musyawaratan,
Ing bab masalah tekad,
Den waspada ing Hyang Agung,
Wajib sami nyatakena.

Seluruh Para Wali,
Hendak membahas masalah Ilmu Rahsa (Ilmu Sejati).
Di Giri Gajah tempatnya,
Bermusyawarah,
Tentang pencapaian masing-masing,
Akan kebenaran Hyang Agung ( Maha Agung ),
Untuk saling dinyatakan kepada semua yang hadir.

3. Kang samya angulah ilmu,
Lamun bijaksaneng driya,
Dadi wijang sayektine,
Tan beda lan puruhita,
Mungguh Rahsaning rasa,
Pralambanging pasang semu,
Tan liyan saking punika.

Mereka yang tengah mendalami Ilmu (Sejati),
Apabila tajam kesadarannya,
Akan terang pemahamannya,
Begitulah orang yang berguru mendalami Ilmu (Sejati),
Menyibak pusat rasanya rasa,
Menguliti segala perlambang dan simbolisme,
Hanya dengan demikian intisari (esensi)nya bisa didapatkan.

4. Nadyan akeh kang wewisik,
Wosing wasana wus ana,
Mung kari met pratikele,
Ing sawurira pepekan,
Kangjeng Sinuhun Benang,
Ingkang miwiti karuhun,
Lan Sunan Kalijaga.

Walaupun banyak wejangan ( berbagai metode dan konsep),
Intisari (esensi)-nya pasti sama,
Tinggal bagaimana kesadaran kita mampu menangkapnya,
Setelah genap semua yang hadir,
Kangjeng Sinuhun Benang,
Yang memulai,
Lantas Sinuhun Kalijaga.

5. Sunan Cirebon lan kang rayi,
Padha nerang Syeh Lemah Bang,
Lan Sunan Majagung-e,
Suhunan Ing Banten,
Lawan Suhunan Giri Gajah,
Samya agunem ing ilmu,
Jenenge masalah tekad.

Kemudian Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) dan adik beliau,
Tengah membicarakan cara menghadapi Syeh Lemah Bang,
Juga Sunan Majagung,
Sinuhun Banten,
Dipimpin oleh Sunan Giri Gajah,
Hendak membahas Ilmu (Sejati),
Mengungkapkan pencapaian masing-masing.

6. Jeng Sinuhun Ratu Giri,
Amiwiti angandika,
He sanak manira kabeh,
Pratingkahe wong makripat,
Aja dadi parbutan,
Dipun sami ilmunipun,
Padha peling pinelingan.

Jeng Sinuhun Ratu Giri,
Memulai pembicaraan,
Hai saudaraku semuanya,
Etika manusia yang telah mencapai Ma’rifat ( Pencapaian spiritual tertinggi ),
Tidak pantas jika saling berebut benar,
Maka dari itu mari satukan pendapat,
Dan saling ingat mengingatkan.

7. Wong wewolu dadi siji,
Aja na kang kumalamar,
Dipun rujuk ing karepe,
Den waspada ing Pangeran,
Nenggih Sinuhun Benang,
Ingkang miwiti karuhun,
Amedhar ing pangawikan.

Semua Wali harus menyatu,
Jangan berbantahan sendiri-sendiri,
Satukan pendapat kita,
Tentang kebenaran Tuhan (yang telah kita capai masing-masing),
Lantas Sinuhun Benang,
Memulai pertama kali,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau.

8. Ing karsa manira iki,
Iman tokid lan makripat,
Weruh ing kasampurnane,
Lamun masiha makripat,
Mapan durung sampurna,
Dadi batal kawruhipun,
Pan maksih rasa rumasa.

Menurut pendapatku,
Tingkatan Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an), dan Ma’rifat ( Melihat Kebenaran Sejati ),
Masih harus ditambah lagi satu tingkatan yaitu MENYADARI KESEMPURNAAN SEJATI,
Apabila masih dalam tingkat Ma’rifat,
Belumlah sempurna,
Karena masih sekedar ‘MELIHAT’, belum ‘MENYADARI’.
Sehingga masih mengira-ngira.

9. Sinuhun Benang ngukuhi,
Sampurnane wong makripat,
Suwung ilang paningale,
Tan ana kang katingalan,
Iya jenenging tingal,
Manteb Pangeran Kang Agung,
Kang anembah kang sinembah.

Sinuhun Benang meyakini benar,
Kesempurnaan Ma’rifat,
Kosong Hilang Penglihatan makhluk,
Tiada lagi yang terlihat,
Karena keadaan sang pelihat,
Hanya ‘MELIHAT’ PANGERAN KANG AGUNG (TUHAN YANG AGUNG),
(Tiada lagi terlihat lain, kecuali hanya) Yang Menyembah dan Yang Disembah.

10. Pan karsa manira iki,
Sampurnane ing Pangeran,
Kalimputan salawase,
Tan ana ing solahira,
Pan ora darbe seja,
Wuta tuli bisu suwung,
Solah tingkah saking Allah.

Jelasnya maksudku (Sunan Benang) ini,
Kesempurnaan Sejati,
Adalah terliputi selamanya ( oleh Dzat-Nya ),
Tiada lagi gerak (makhluk),
Tiada lagi kehendak (makhluk),
Buta tuli bisu kosong (kemakhlukan kita),
Dan segala gerak dan kehendak hanya dari Allah.

11. Sinuhun Benang anuli,
Ngandikani Wali samya,
Heh sanak manira kabeh,
Punika kekasih alam,
Yen mungguh ing manira,
Jenenge Roh semunipun,
Ing Roh-e Nabi Mukhammad

Lantas Sinuhun Benang,
Menanyakan kepada Para Wali,
Wahai saudaraku semua,
Inilah Kekasih Semesta,
Yang ada didalam diri kita semua,
Yaitu Ruh kita ini,
Dan nama Ruh kita sebenarnya adalah Muhammad ( Yang Terpuji).

12. Ora beda ing Roh iki,
Yen sedya mutabangatan,
Tan beda ing panunggale,
Kadya paran karsandika,
Matur Wali sadaya,
Boten sanes kang winuwus,
Sampun atut sabda Tuwan.

Tiada beda semua Ruh itu,
Apabila diperbandingkan,
Tak ada beda satu sama lainnya,
Bagaimanakah pendapat saudaraku semua?
Menjawab semua Wali,
Sudah benar apa yang anda yakini,
Kami semua sependapat.

13. Pundi kang ingaran Nabi,
Jenenge Roh ing semunya,
Mapan iku kekasihe,
Sadurunge jagad dadi,
Mapan jinaten tunggal,
Den dadekaken karuhun,
Kang minangka kanyatahan.

Manakah sesunguhnya yang dinamakan Nabi Muhammad,
Sesungguhnya adalah nama dari Ruh,
Itulah Kekasih Allah,
Sebelum semuanya tercipta,
Berada dalam Jinaten Tunggal (Kesejatian Tunggal/ Jadi Satu dengan Allah),
Lantas ditiupkan dahulu,
Sebagai perwujudan Allah. ( Sunan Benang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Ruh manusia dan Allah adalah SATU. Tapi beliau tidak terang-terangan mengatakannya.)

14. Sinuhun Majagung nenggih,
Amedhar ing pangawikan,
Ing karsa manira dene,
Iman Tokid lan Makripat,
Tan kocap ing akherat,
Mung padha samengko wujud,
Ing akherat ora ana.

Sinuhun Majagung kemudian,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Menurut pendapatku ( Sunan Majagung ),
Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an ) dan Ma’rifat ( Pencapaian tertinggi spiritual),
Tidak ada gunanya di akherat (kata akherat maksud Sunan Majagung adalah PUNCAK SPIRITUAL) nanti,
Hanya dibutuhkan pada saat ini saja ( Termasuk konsep belaka),
Di akherat tidak ada.

15. Nyatane Kawula Gusti,
Iya kang muji kang nembah,
A0pan mangkono lakone,
Ing akherat ora ana,
Yen tan anaa Iman,
Tan weruh Jatining Ilmu,
Ora cukup dadi janma.

Wujud nyata Kawula ( Hamba ) dan Gusti ( Tuhan ) hanya ada didunia ini,
Terlihat memuji dan menyembah,
Padahal sesungguhnya,
Di akherat tidak terlihat Dua ( maksudnya Kawula dan Gusti. Intinya Sunan Majagung hendak berkata Kawula dan Gusti itu SATU, tapi sama seperti Sunan Benang, beliau juga tidak terang-terangan),
Apabila tidak mempunyai Iman ( Keyakinan ) tentang hal ini,
Tidak akan tahu Kesejatian Ilmu,
(Apabila tidak mengetahui Kesejatian Ilmu, maka ) tidak lengkap menjadi manusia.

16. Jeng Sunan Ing Gunungjati,
Amedhar ing pangawikan,
Jenenge Makripat mengko,
Awase marang Pangeran,
Tan ana ingkang liyan,
Tan ana roro telu,
Allah pan amung kang Tunggal.

Jeng Sunan Gunungjati,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Sesungguhnya Ma’rifat itu,
Penglihatannya hanya melihat Tuhan semata,
(Apabila sudah mengetahui Tuhan, maka akan menyadari) Tidak ada yang lain lagi selain Dia,
Tak ada yang kedua dan ketiga ( Sunan Gunungjati sebenarnya juga hendak mengatakan, TIDAK ADA LAGI KAWULA DAN GUSTI JIKA TELAH MENCAPAI MA’RIFAT, YANG ADA CUMA GUSTI. TIDAK ADA LAGI DUALITAS, ATAU TRINITAS LAGI. KAWULA DAN GUSTI ADALAH SATU. Karena KAWULA telah lebur kedalam GUSTI. INILAH TAUKHID. INILAH KE-ESA-AN. Tapi, beliau sama seperti Sunan Benang dan Sunan Majagung, tidak berani mengatakan terang-terangan).
Hanya Allah Yang Maha Tunggal.

17. Jeng Sunan Kalijaga ngling,
Amedhar ing pangawikan,
Den waspada ing mengko,
Sampun ngangge kumalamar,
Den awas ing Pangeran,
Dadya paran awasipun,
Pangeran pan Ora Rupa.

Sunan Kalijaga berbicara,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Sadarlah senantiasa,
Jangan sampai tergoyahkan,
Senantiasa Menyadari Adanya Tuhan,
Bagaimana cara menyadari-Nya?
Bukankah Tuhan tidak ber-Wujud?

18. Ora Arah Ora Warni,
Tan Ana ing Wujudira,
Tanpa Mangsa Tanpa Enggon,
Sejatine Ora Ana,
Lamun Ora Ana-a,
Dadi jagadipun suwung,
Ora Ana Wujudira.

Tidak ber-Kedudukan disuatu tempat juga Tidak ber-Bentuk,
Tidak ada Wujud-Nya,
Tanpa Ruang dan Waktu,
Sesungguhnya ALLAH TIDAK ADA, (Allah yang personil, yang berpribadi seperti yang dipahami orang awam)
APABILA BEGITU,
Sesungguhnya ALLAH ITULAH KEKOSONGAN ABADI,
DIA TIDAK BERWUJUD. (Sunan Kalijaga tidak mau membicarakan tentang KESATUAN WUJUD (WAJIBUL WUJUD) seperti yang lain. Beliau hanya memberikan gambaran bahwasanya apa yang dinamakan Allah itu adalah KEKOSONGAN ABADI YANG MUTLAK, SUMBER SEGALANYA. Jadi, jika kita MENYATU LAGI DENGAN YANG MUTLAK itu, maka itu dimungkinkan. Sunan Kalijaga, tidak mau membahas tentang MANUNGGALING KAWULA GUSTI. Karena beliau sepaham dengan Syeh Siti Jenar.)

19. Syeh Benthong samya melingi,
Amedhar ing tekadira,
Kang aran Allah Jatine,
Tan ana liyan Kawula,
Kang dadi kanyatahan,
Nyata ing Kawulanipun,
Kang minangka Katunggalan.

Syeh Benthong lantas berkata,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Yang disebut Allah sesungguhnya,
Tak lain adalah Kawula ( Hamba ) ini juga,
Yang menjadi KENYATAAN WUJUD-NYA,
Benar-benar nyata Ada-Nya terlihat pada Kawula-Nya,
Karena Gusti (Tuhan) dan Kawula (Hamba) adalah Satu. ( Syeh Benthong lebih berani berbicara. Terlihat disini.)

20. Kangjeng Molana Maghribi,
Amedhar ing pangawikan,
Kang aran Allah Jatine,
Wajibul Wujud kang ana,
Syeh Lemah Bang ngandika,
Aja-na kakehan semu,
IYA INGSUN IKI ALLAH.

Kangjeng Maulana Maghribi,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Yang disebut Allah sesungguhnya,
WAJIBUL WUJUD (WUJUD YANG HARUS ADA). ( Syeh Maulana Maghribi, tidak mau berbicara dalam. Terlihat disini).
Dan Syeh Lemah Bang kemudian berkata,
Jangan berputar-putar,
IYA INGSUN IKI ALLAH. (IYA AKU INI TUHAN).

21. NYATA INGSUN KANG SEJATI,
JEJULUK PRABHU SADMATA,
TAN ANA LIYAN JATINE,
INGKANG BANGSA ALLAH,
Molana Maghribi mojar,
Iku jisim aranipun,
Syeh Lemah Bang ngandika.

Nyatalah AKU yang Sejati,
Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud ‘jargon’ spiritual waktu itu).
Tidak ada lagi yang lain,
Apa yang disebut Allah itu.
Maulana Maghribi berkata,
Yang anda tunjuk itu adalah jasad,
Syeh Lemah Bang menjawab.

22. Kawula amedhar ilmi,
Angraosi Katunggalan,
Dede jisim sadangune,
Mapan jisim ora ana,
Dene kang kawicara,
Mapan Sejatining Ilmu,
Amiyak warana.

Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati,
Membahas tentang Kesatuan Wujud,
Tidak membahas Jasad (yang fana),
Jasad sudah terlampaui,
Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu,
Membuka Segala Rahasia.

23. Lan malih sadaya ilmi,
Sampun wonten kumalamar,
Yekti tan ana bedane,
Salingsingan punapaa,
Dening sedya kawula,
Ngukuhi jenenging ilmu,
Sakabehe iku padha.

Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu,
Tidak ada yang berbeda,
Sungguh tiada beda,
Sedikitpun tidak,
Menurut pendapat hamba,
Meyakini bahwasanya Ilmu itu,
Semuanya sama.

24. Kangjeng Syeh Maulana Maghribi,
Sarwi mesem angandika,
Inggih leres ing semune,
Puniku dede wicara,
Lamun ta kapyarsa-a,
Dening wong akathah saru,
Punika dede rerasan.

Kangjeng Syeh Maulana Maghribi,
Sambil tersenyum berkata,
Benarlah sesungguhnya apa yang kamu katakan,
Akan tetapi itu bukan bahan pembicaraan,
Apabila sampai terdengar,
Oleh banyak orang sangat tabu,
Hal itu bukan bahan percakapan.

25. Tuwan ucapna pribadi,
Aja-na wong amiyarsa,
Anuksma ing lathi dhewe,
Puniku ujar kekeran,
Yen kena-a Tuwan,
Amalangi jenengipun,
Bok sampun kadi mangkana.

Ucapkanlah sendiri,
Jangan sampai terdengar oleh orang lain,
Cukup terdengar oleh telinga sendiri,
Hal itu adalah Sabda larangan,
Apabila bisa,
Saya menyarankan,
Janganlah seperti itu.

26. Nenggih Jeng Sunan Giri,
Amedhar ing pangawikan,
Pasthine Allah Jatine,
Jejuluk Prabhu Sadmata,
Sampun wancak wicara,
Tan ana pepadhanipun,
Anging Allah Ingkang Tunggal.

Lantas Jeng Sinuhun Giri,
Menyampaikan pencapaian spiritual beliau,
Sudah pasti Allah itu sesungguhnya,
Bergelar Prabhu Sadmata,
Janganlah semua yang hadir disini sembrono dalam berbicara,
Dia tidak ada bandingannya,
Hanya Allah Yang Maha Tunggal.

27. Ya ta sakathahing Wali,
Angestokaken sadaya,
Mapan sami ing kawruhe,
Amung sira Syeh Lemah Bang,
Tan kena pinalangan,
Cinegah Wali sadarum,
Tan owah ing tekade.

Mendengar kata-kata Sunan Giri ( yang turun ketingkat syari’at),
Seluruh Wali terdiam dan menta’ati,
(Sunan Giri berkata kepada Syeh Lemah Bang), Hanya kamu wahai Syeh Lemah Bang,
Tidak bisa dihalangi,
Tidak bisa dicegah oleh semua Wali,
Tetap tak berubah pendapat kamu.

28. Angandika Syeh Siti Brit,
Pan sampun ujar manira,
Dennya nututi kepriye,
Dhasare ingkang amedhar,
Pamejange maring wang,
Puniku wuruking Guru,
Datan kenging ingowahan.

Berkata Syeh Siti Brit,
Sudah menjadi tekad hamba,
Bagaimanapun juga,
Karena semua itu adalah wejangan,
Diwejangkan kepada hamba,
Oleh Guru hamba,
Tidak bisa lagi dirubah.

29. Ameksa tan kena gingsir,
Sinuwalan ing ngakathah,
Tan kena owah tekade,
Sampun ujar linakonan,
Pan wus jangjining Suksma,
Sunan Cirebon ngandika rum,
Sampun ta Tuwan mangkana.

Dipaksapun tidak bisa surut,
Dibujuk oleh semua Para Wali,
Tak pula berubah tekadnya,
Sudah menjadi ucapan umum,
Dan sudah menjadi hukum syariat,
Demikian Sunan Cirebon ( Sunan Gunungjati) berkata,
Janganlah tuan seperti itu.

30. Punika ujaring jangji,
Yekti binunuh ing kathah,
Nenggih sampun ing khususe,
Wong ingkang ngaku Allah,
Ngandika Syeh Lemah Bang,
Lah mara Tuwan den gupuh,
Sampun ngangge kalorehan.

Sudah ditentukan,
Hukumnya adalah dibunuh (Qisas),
Khusus bagi mereka,
Yang mengaku Allah,
Berkata Syeh Lemah Bang,
Segeralah laksanakan,
Jangan ditunda-tunda lagi.

31. Dhasar kawula labuhi,
Ngulati pati punapa,
Pan pati iku parenge,
Sarenge sih kawimbuhan,
Pan tansah kawisesa,
Kang teka jatining suwung,
Ana Kadim ana anyar.

Memang sudah saya niati,
Mencari kematian yang bagaimana lagi,
Sebab bersamaan dengan kematian,
AKAN DATANG KASIH-NYA,
YANG MELIPUTI AKU,
DAN KEKOSONGAN YANG SEJATI AKAN DATANG PADAKU.
Tidak perlu disesali sebab diriku ini memang terdiri dari YANG KEKAL (Ruh) dan YANG FANA (Nafs dan Jasad).

32. Ngulati punapa malih,
Ora ana liyan-liyan,
Apan apes salawase,
Anging Allah Ingkang Tunggal,
Ya jisim iya Allah,
Taukhid tegese puniku,
Apan Tunggal Kajatennya.

Mau mencari apa lagi?
Tidak ada lagi pencapaian yang lebih sempurna (selain hal ini).
Yang fana selamanya pasti akan kembali ke fana,
Yang kekal akan kembali kepada Allah Yang Tunggal,
Dan jasadku yang sesungguhnya adalah Ruh ini, Iya Ruh Iya Allah, Satu.
Taukhid itu namanya,
Satu kesatuan dalam Kesejatian.

33. Sakathahe Para Wali,
Pra samya mesem sadaya,
Miyarsa pamuwuse,
Kukuh tan kena ingampah,
Saya banjur micara,
Amiyak warananipun,
Ora ngangge sita-sita.

Seluruh Para Wali,
Tersenyum semuanya,
Mendengar apa yang diucapan Syeh Siti Jenar,
Kokoh tidak bisa digoyahkan,
Sangat berani,
Membuka segala rahasia,
Dengan tidak segan-segan lagi.

34. Angaku jeneng pribadi,
Andadra dadi rubeda,
Ngreribedi wekasane,
Nerang anerak syara’,
Rembuge andaliga,
Mawali Pra Wali Wolu,
Winalon kurang walaka.

Menyibak Kesejatian Diri-Nya,
Keberaniannya membikin masalah,
Menjungkir balikkan syara’ (Hukum),
Kata-katanya sangat berani,
Dicegah oleh semua Wali,
Namun seolah-olah kurang juga yang mencegah beliau.

35. Lajeng abubaran sami,
Kang Para Wali sadaya,
Kondur ing padalemane,
Mung Jeng Sunan Giri Gajah,
Kang kawogan anglunas,
Kang murang syara’-ing ngelmu,
Mumpung durung ngantos lama.

Lantas hendak bubar,
Para Wali semua,
Untuk pulang ketempat tinggalnya masing-masing,
Dan Sunan Giri Gajah,
Yang berhak memutuskan hukuman,
Bagi yang menjungkir balikkan syara’,
Mumpung belum terlalu lama.

36. Jeng Sunan Giri nyagahi,
Ing sirnane Syeh Lemah Bang,
Yen sampun prapteng masane,
Adege Nata ing Demak,
Bedhahing Majalengka,
Sadaya samya jumurung,
Lajeng samya sasowangan.

Jeng Sunan Giri menyanggupi,
Akan menjatuhkan hukuman mati bagi Syeh Siti Jenar,
Apabila sudah sampai pada waktunya,
Pelantikan Sultan Demak,
Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Majalengka ( Majapahit),
Seluruh Wali menyetujui,
Lantas pulang kekediaman masing-masing.

( 4 )

Syeh Siti Jenar, kini telah menjadi semacam duri dalam daging bagi Dewan Wali Sangha. Sebuah duri ditengah berkobarnya semangat kekhalifahan. Sebuah obsesi Kaum Putihan untuk mendirikan bentuk pemerintahan Islam pertama di Jawa. Suatu Kekhalifahan yang menurut mereka bakal menjadi lebih besar gaungnya daripada Kekhalifahan Malaka( yang berdiri -/+ 1400 M) maupun Kekhalifahan Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1285 Masehi, tujuh tahun lebih awal berdiri daripada berdirinya Kerajaan Majapahit di Jawa ( 1292 M).Samudera Pasai bisa berdiri karena Kerajaan Shriiwijaya yang bercorak Buddhis, tengah terlibat peperangan dengan Kerajaan Thai yang juga sama-sama bercorak Buddhis. Ditambah lagi, serangan dari Kerajaan Singhasari yang berpusat di Malang, Jawa Timur dalam ekspedisi Pamalayu-nya, ikut memperlemah kekuatan Shriiwijaya.

Dalam situasi politik yang tidak menentu seperti ini, Samudera Pasai berhasil memisahkan diri, dan kemudian memaklumatkan diri sebagai Kekhalifahan pertama di Nusantara. Namun manakala Majapahit berdiri, sebagai penerus dinasty Singhasari, dan ketika Shriiwijaya berhasil dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Majapahit, maka Samudera Pasai-pun, mau tak mau, harus ikut tunduk mengakui kekuatan Majapahit.

Namun walaupun begitu, otonomi khusus bagi Samudera Pasai tetap diberikan oleh Penguasa Majapahit ( Raden Wijaya kala itu ). Hukum Islam tetap boleh diberlakukan diwilayah Samudera Pasai. Kebijakan yang luar biasa seperti ini, hanya bisa didapati dari mereka-mereka yang sudah berkesadaran tinggi. Seandainya Samudera Pasai yang berkuasa atas Majapahit, apakah akan terjadi sebaliknya?

Dan pada tahun 1401-1406 Masehi, Majapahit dilanda keguncangan. Kadipaten Blambangan, sebuah Kerajaan kecil wilayah Majapahit yang ada diujung timur pulau Jawa, hendak melepaskan diri dari pusat kekuasaan. Maka, terjadilah perang saudara yang terkenal dalam sejarah dengan nama Perang Pareg-greg. Blambangan berhasil ditundukkan. Beberapa bangsawan Blambangan berhasil melarikan diri ke pulau Tumasik ( Negara Singapura sekarang : Damar Shashangka). Namun, beberapa diantara bangsawan Blambangan merasa tetap tidak aman tinggal di pulau Tumasik, salah seorang darinya, bernama Pangeran Paramishora, diiringi beberapa pengikutnya, meninggalkan pulau Tumasik, menuju ke Semenanjung Malaka.

Di Semenanjung Malaka, Pangeran Paramishora dengan para pengikutnya dari Jawa, emmbuka hunian baru. Karena letaknya strategis, hunian baru itu berkembang pesat menjadi salah satu pusat perdagangan dunia. Pangeran Paramishora lantas memberanikan diri memproklamirkan berdirinya sebuah Kerajaan baru bernama Kerajaan Malaka. Dan Kerajaan Malaka inilah cikal bakal negara Malaysia sekarang.

Mendengar diproklamirkannya sebuah Kerajaan baru di Semenanjung Malaka yang merupakan wilayah Majapahit dan yang tidak mengakui kedaulatan Majapahit, penguasa Majapahit kala itu, yaitu Prabhu Wikramawardhana, tidak tinggal diam. Pangeran Paramishora, meminta bantuan Kaisar China dan menyatakan tunduk kepada Kekaisaran China, sehingga mau tidak mau Angkatan Perang Majapahit jika hendak merebur kembali Malaka, harus berhadapan dengan Angkatan Perang China!

Pangeran Paramoshora memang cerdik, bahkan untuk memperkuat tercapai ambisinya, dia menyatakan masuk Islam karena dia menyadari, di Malaka kebanyakan masyarakatnya telah memeluk Islam. Begitu masuk Islam dia mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Dan Malaka lantas berubah menjadi sebuah kekhalifahan Islam. Para penduduk Malaka dan Samudera Pasai menyatakan dukungannya kepada Kekhalifahan Malaka. Praktis, kini Majapahit harus menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan Angkatan Perang China dan kekuatan Islam.

Dilain pihak, dipusat kekuasaan Majapahit sendiri, segala keputusan penting yang menyangkut Kedaulatan Negara, terkesan sangat lambat dan tidak tegas. Terutama kebijakan yang terlampau lunak kepada orang-orang Islam yang ada diwilayah Majapahit membuat Majapahit semakin kehilangan pamornya. Kebijakan yang teramat lunak ini juga tak lepas dari banyaknya petinggi Kerajaan yang telah beragama Islam. Maka tak heran, kebijakan yang terlampau lunak kepada orang-otrang Islam, kerap kali mewarnai keputusan-keputusan yang diambil. Dan menyangkut urusan Malaka, pada akhirnya, Malaka lepas juga dari wilayah Majapahit. Konfrontasi yang hendak dijalankan, tidak pernah terwujud. Majapahit tengah disetir oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang tidak kasat mata.

Sultan Iskandar Syah, meninggal dunia pada tahun 1414 Masehi. Dia digantikan oleh Muhammad Iskandar Syah. Sepuluh tahun kemudian (1424 M ), terjadi perebutan kekuasaan. Adik Muhammad Iskandar Syah, yaitu Mudzafar Syah, merebut tahta Kekhalifahan. Situasi politik Malaka mencekam.

Pada masa inilah, Syeh Datuk Sholeh, seorang ulama Islam terkemuka yang tinggal di Malaka, melarikan diri ke Jawa.

Syeh Datuk Sholeh, adalah putra dari Syeh Datuk Isa. Syeh Datuk Isa adalah ulama terkemuka juga di Malaka, beliau putra Syeh Ahmad Jalalluddin, ulama Islam yang bermukim di Champa ( Kamboja sekarang : Damar Shashangka ). Syeh Ahmad Jalalluddin adalah pendatang dari India, dia adalah putra Syeh Abdullah Khannuddin, seorang Mursyid Thariqat Syathariyyah yang terkenal di Ahmadabad, India. Syeh Abdullah Khannuddin sendiri adalah putra Syeh Abdul Malik yang juga seorang pendatang di India. Beliau berasal dari Qazam, Hadramaut. Syeh Abdul Malik adalah putra Syeh ‘Alawy. Syeh Alawiy adalah keturunan seorang ulama terkenal yang bernama Syeh Isa al-Muhajjir al-Bashori al- ‘Alawiy.

Pada tahun 1425 Masehi, Syeh Datuk Sholeh, tiba di Caruban Larang ( Cirebon sekarang : Damar Shashangka ). Kedatangannya bersama istri beliau dan para pengikutnya. Setibanya di Caruban Larang, yang waktu itu sudah diperintah oleh Pangeran Cakrabhuwana, beliau memilih menetap di daerah Pakuwuan Caruban atau Astana Japura sekarang, terletak sebelah tenggara kota Caruban Larang.

Di Caruban, beliau bersahabat dekat dengan Syeh Datuk Kahfi, seorang ulama Islam yang telah lebih dahulu tiba di Caruban, bahkan jauh-jauh hari sebelum Pangeran Cakrabhuwana mendirikan Caruban Larang. Syeh Datuk Kahfi inilah, guru dari Pangeran Cakrabhuwana.

Pada awal tahun 1426 Masehi, Syeh Datuk Sholeh wafat. Kala itu, istri beliau yang tengah mengandung semenjak kepergiannya dari Malaka, melahirkan seorang putra. Putra yang lahir yatim ini, diberi nama San ‘Ali Anshar. Kelak, San ‘Ali Anshar inilah yang terkenal dengan nama Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar.

Sejak kecil, San ‘Ali Anshar diasuh oleh Ki Danusela, sahabat Syeh Datuk Sholeh. Menginjak usia lima tahun, Ki Danusela mengirimkan San ‘Ali Anshar ke pasantren Giri Amparan Jati yang diasuh oleh Syeh Satuk Kahfi.

San ‘Ali Anshar, adalah santri generasi kedua dari Pesantren Giri Amparan Jati. Pada generasi pertama, tercatat nama Pangeran Walang Sungsang dan Dewi Rara Santang. Keduanya adalah putra-putri Prabhu Silihwangi, Raja Pajajaran. Dan Pangeran Walang Sungsang, lantas bergelar Pangeran Cakrabhuwana, sedangkan Dewi Rara Santang lantas berganti nama menjadi Syarifah Muda’im. Syarifah Muda’im adalah ibu dari Syarif Hidayatullah yang kelak terkenal dengan nama Sunan Gunungjati.

Menginjak dewasa, San ‘Ali Anshar setelah merasa cukup menimba ilmu agama dari Syeh Datuk Kahfi, dia lantas memutuskan untuk menuju pedalaman Pajajaran. San ‘Ali Anshar merasa bahwa apa yang dicarinya selama ini, apa yang didalaminya selama ini, belum bisa memuaskan hasrat ‘spiritual’-nya. Dia ingin mencoba mencari seorang Guru lain, Guru selain Syeh Datuk Kahfi. Dan San ‘Ali Anshar menerobos pedalaman Pajajaran untuk mecari Para Pertapa Buddha dan Para Ahli Yoga Hindhu yang kabarnya banyak bermukim disana.

Di Pajajaran, San ‘Ali Anshar berhasil berguru kepada seorang Yogi Hindhu. Dari Sang Yogi, San ‘Ali Anshar mendapatkan pelajaran Yoga yang bersumber dari Rontal Catur Viphala, sebuah sistem Yoga yang juga dipelajari oleh Prabhu Kertawijaya ( pengganti Ratu Suhita ) Raja Majapahit.

San ‘Ali Anshar, mampu dengan cemerlang menguasai empat tahapan sistem Yoga Catur Viphala. Empat tahap yang disebut Nis-Prha, Nir-Hana, Nis-Kala dan Nir- Asraya.

Dalam tahap Nis- Prha, seorang Sadhaka ( pengembara spiritual ) diharapkan sudah mampu melampaui segala macam keinginan duniawinya. Duniawi sudah tidak menarik minatnya lagi. Kehendak ‘aku’-nya hanya terarah pada ‘Sang Atma’ atau ‘Aku- Semesta’. Seluruh Panca Indrya ( Lima Indra penghubung dengan dunia Maya ) dan Panca Karmendrya ( Lima Indera penggerak badan kasar ), sudah mampu ditundukkan. Demikian juga dengan Manah ( Pikiran ), Citta ( Ingatan ), Ahamkara ( Keakuan ) dan Buddhi ( Kesadaran terbatas ), sudah sangat tenang. San ‘Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Heneng ( Tenang )

Dalam tahap Nir-Hana, seorang sadhaka diharapkan sudah mampu menyadari sebenar-benarnya, bahwa diri-Nya adalah bagian dari Kesadaran Murni Semesta. Telah benar-benar menyadari bahwa diri-Nya adalah Atma. Diri-Nya bukanlah Badan Kasar atau Sthula Sariira yang terlihat ini. Diri-Nya bukanlah Badan Halus atau Suksma Sariira yang terdiri dari Manah, Citta, Ahamkara, Buddhi dan kesepuluh Indra ini. Diri-Nya tak lain adalah percikan Brahman, sebuah Kesadaran Total Murni Yang Absolut Transendental. San ‘Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Hening ( Jernih ).

Dalam tahap Nis- Kala, seorang sadhaka sudah mampu melampaui Badan Kasar dan Badan Halusnya. Seorang sadhana sudah menyadari betul, bahwa Badan Kasar dan Badan Halus hanyalah produk Maya, Produk Alam, yang tidak kekal dan bakalan musnah. Sandahan benar-benar menyadari hanya Atma-lah yang kekal, karena Atma tidak diciptakan. Atma adalah percikan Brahman. Sang Sadhaka sudah melihat kebenaran ini Dia sudah mampu melihat apa itu Atma, apa itu Brahman. Sang Sadhaka sudah bisa melihat bahwasanya Atman dan Brahman adalah Satu. San ‘Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata : Hunong ( Melihat ).

Dalam tahap Nir- Asraya, Sang Sadhaka sudah mampu melebur ‘aku’-nya. Sudah mampu memecahkan belenggu ‘Aku’-Nya Sudah melampaui Mindnya. Dan Atma sang Sadhaka yang ternyata adalag Satu Kesatuan Tunggal dengan Brahman, kini telah menikmati kondisi penyatuan ini, penyatuan yang telah lama Ia lupakan. Menikmati Ketunggalan yang telah lama tak disadarinya akibat pengaruh Maya, pengaruh Mind. Pengaruh ‘aku’ kecilnya sendiri. Sang Sadhaka telah lebur kedalam Kebahagiaan Sejati Yang Tiada Akhir. San ‘Ali Anshar, menyebut kondisi ini dengan satu kata ; Menang ( Kemenangan ).

Di Pajajaran, melalui bimbingan seorang Yogi Hindhu, San ‘Ali Anshar, mencapai ‘Puncak Kesadaran’. Dan dari Pajajaran inilah, San ‘Ali Anshar menyadari bahwa seluruh alam ini, sesungguhnya adalah Satu Kesatuan. Terlihat berbeda karena setiap makhluk masih terliputi kesadaran Badan Halus. Sehingga muncul ‘aku’ kecil. Begitu ‘aku’ kecil muncul, maka setiap makhluk merasa terpisah sebagai pribadi-pribadi tersendiri. Begitu pengaruh Maya ini berhasil disingkapkan, maka semua yang terlihat hanyalah Brahman semata. San ‘Ali Anshar bersujud syukur, karena melalui seorang Yogi Hindhu, dia bisa menyadari semua ini. Bahkan akhirnya, dia juga bisa memahami apa yang pernah diucapkan oleh seorang Sufi terkenal, yaitu Abu Yazid al-Busthami, manakala beliu pernah berkata kepada seseorang yang tengah mencarinya. Seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya. Beliau bertanya : Siapa ?. Yang mengetuk menjawab : Aku, mencari Abu Yazid. Beliau lantas menjawab : Pergilah. Yang ada dirumah ini hanya Allah!.

Setelah berhasil memperoleh Kesadaran Purna dari Pajajaran, hasrat San ‘Ali Anshar untuk melakukan pengembaraan, tak terbendung lagi. Dia bertolak ke Palembang. Menemui Arya Damar. Disana San ‘Ali Anshar memperdalam lagi puncak spiritualitas yang sesungguhnya telah ia dapatkan.

Arya Damar adalah bangsawan Palembang. Dia adalah putra Prabhu Wikramawardhana, Raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1389-1429 Masehi dengan seorang putri China. Nama China Arya Damar adalah Swan Liong. Dia adalah peranakan Jawa-China. Sempat belajar agama kepada Syeh Ibrahim As-Samarqand atau yang di Jawa terkenal dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. Syeh Ibrahim As-Samarqand inilah ayah kandung Sunan Ampel. Arya Damar inilah ayah tiri Raden Patah. ( Baca catatan saya : Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ).

Di Palembang, San ‘Ali Anshar bersama Arya Damar membuktikan bahwa seluruh semesta ini sejatinya adalah satu kesatuan tunggal. Sehabis dari Palembang, San ‘Ali Anshar melanjutkan pengembaraannya ke Kesultanan Malaka ( +/- 1450 M ). Di Malaka, San ‘Ali Anshar dikenal dengan nama Syeh Jabaranta, Bahkan, akibat pertemuannya dengan Syeh Datuk Ahmad, yaitu kakak kandung Syeh Datuk Sholeh, ayahnya, San ‘Ali Anshar, diberi nama baru, yaitu Syeh Abdul Jalil.

Rasa ingin mengenal semesta raya yang semakin meletup-letup didada San ‘Ali Anshar yang kini dikenal dengan nama Syeh Abdul Jalil, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke Baghdad, Irak. Bersama seorang ulama Sufi asal Baghdad yang menetap di Malaka, bernama Syeh Ahmad Al-Mubasyarah Al- Tawwalud, Syeh Abdul Jalil, berangkat ke Baghdad.

Di Baghdad, Syeh Abdul Jalil semakin intensif mempelajari spiritualitas. Apalagi disana, dikediaman Al-Tawwalud, banyak naskah-naskah Sufistik yang tersimpan. Seluruh kitab Sufistik mulai dari Ihya’ Ulumuddin-nya Al-Ghazali, Fushushul Hikam-nya Ibnu ‘Araby, karya-karya Abu Yazid Al-Busthami bahkan At-Thawasun-nya Al-Hallaj, yang terkenal dengan ucapannya ‘Anna Al-Khaq’ ( Aku-lah Kebenaran Sejati ) dan yang hidupnya berakhir targis ditiang eksekusi mati, semuanya berhasil dipelajari oleh Syeh Abdul Jalil. Termasuk pula kitab Haqiqatul Haqoiq, Insan Kamil dan Manazilul Alahiyyah-nya Al-Jilli, semuanya berhasil dipahaminya.

Setelah dirasa cukup, Syeh Abdul Jalil meneruskan pengembaraannya ke Makkah. Setelah mengunjungi Makkah, Syeh Abdul Jalil bertolak pulang ke Jawa.

Syeh Abdul Jalil tiba kembali dipulau Jawa pada tahun 1463 Masehi. Caruban Larang, kini telah berubah menjadi daerah otonom. Pangeran Walang Sungsang kini menjawab sebagai Penguasa tunggal wilayah Caruban Larang dan bergelar Pangeran Cakrabhuwana, serta bergelar Shrii Manggana. Gelar terakhir adalah gelar pemberian dari ayahandanya Prabhu Silih Wangi.

Syeh Datuk Kahfi, masih dianugerahi usia panjang.

Kedatangan Syeh Abdul Jalil ini diketahui oleh Dewan Wali Sangha, yaitu semacam Majelis Ulama Jawa yang berpusat di Ampeldhenta, Surabaya. Majelis Ulama Jawa ini berdiri pada tahun 1454 dibawah pimpinan Raden ‘Ali Rahmad atau lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. ( Baca catatan saya : Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ).

Selama beberapa tahun meninggalkan Jawa, telah banyak sekali perubahan yang terjadi. Syeh Abdul Jalil melihat umat Islam sekarang terkesan lebih militan, jauh berbeda dengan kesan sebelum beliau meninggalkan Jawa.

Karena di Jawa bagian barat kepemimpinan Islam belum ada yang memegang, atas usul Sunan Benang, Syeh Abdul Jalil diangkat sebagai wakil Dewan Wali di sana. Syeh Abdul Jalil, yang setibanya di Caruban mendapat gelar baru Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, menerima tawaran itu.

Namun melihat dominasi Dewan Wali Sangha yang semakin hari semakin tidak mencerminkan Islam yang sesungguhnya, membuat Syeh Siti Jenar harus berkali-kali melayangkan protesnya kepada Sunan Ampel. Syeh Siti Jenar tidak menyetujui gerakan-gerakan lasykar Islam yang kian hari kian radikal. Harmonisasi terganggu. Toleransi terkoyak. Etika kemanusiaan tercampak. Dan ujung-ujungnya Islam menjadi kambing hitam.

Pada puncaknya, Syeh Siti Jenar menyatakan keluar dari Dewan Wali Sangha. Bagi beliau, spiritualitas Islam yang universal, menjadi terasa sempit terhimpit dinding-dinding kelembagaan Dewan Wali. Dan, Syeh Siti Jenar tidaklah sendiri, seorang anggota Dewan Wali, yang sangat disegani diwilayah Majapahit, yaitu Sunan Kalijaga, mempunyai pandangan yang sama dengan beliau. Maka, dimata Dewan Wali, kedua tokoh ini telah menjadi dua sosok figur ‘pemberontak’.

Seorang santri senior Sunan Ampel, yang bernama Sunan Giri, menamakan kelompok Syeh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, sebagai kelompok Abangan, semacam kelompok bid’ah. Kelompok yang tidak mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan, sepotong-sepotong. Dan, situasipun memanas. Ummat Islam Jawa terpecah menjadi dua kelompok besar. Mereka yang berpandangan bahwasanya umat beragama lain berhak berdampingan secara sejajar dengan umat Islam, saling asah, asih dan asuh, saling memberi, saling mengisi, dikelompokkan oleh Sunan Giri sebagai pengikut Abangan. Sedangkan kelompok yang berpandangan bahwa Islam adalah kebenaran tunggal, tidak ada lagi agama yang benar kecuali Islam, tidak ada lagi toleransi bagi mereka yang bukan Islam kecuali ada perjanjian tertulis dan selayaknya ajaran Islam yang berhak mendominasi segala aspek kehidupan manusia, dikelompokkan sebagai kaum Putihan.

Pada tahun 1475 Masehi, Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran Cakrabhuwana, beserta ibunya Syarifah Muda’im, datang ke Cirebon dari Mesir. Mengingat kedudukan kepemimpinan Islam di Jawa bagian barat tengah kosong, maka Dewan Wali Sangha meminta Syarif Hidayatullah bersedia mengisi kekosongan itu. Syarif Hidayatullah lantas terkenal dengan nama Sunan Gunungjati.

Menjelang awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Kepemimpinan Dewan Wali Sangha beralih ketangan Sunan Giri. Melihat perubahan yang tak terduga ini, mau tak mau posisi abangan sangat terjepit.

Dan manakala mendengar Pesantren Krendhasawa yang diasuh oleh Syeh Siti Jenar mengalami kemajuan sedemikian pesat, dimana materi pengajaran yang diajarkan ternyata sangat-sangat lunak bagi akidah Islam, begitu menurut Sunan Giri, bahkan tassawuf adalah materi utama yang diajarkan disana melebihi ilmu-ilmu yang lain, maka Sunan Giri, yang merasa sebagai Wali Mukmin, Pemimpin Dewan Wali, meminta Syeh Siti Jenar untuk menghadap ke Giri.

Dewan Wali Sangha yang mendapati bahwa Syeh Siti Jenar benar-benar sudah diluar kontrol, diam-diam memutuskan untuk menyingkirkan beliau.

Pada tahun 1478, Demak Bintara mengadakan perebutan kekuasaan. Majapahit berhasil dihancurkan ( Baca catatan saya ; Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ). Perebutan kekuasaan yang berakhir sukses gemilang ini membuat orang-orang Islam golongan Putihan merasa bangga. Kala itu, mereka yakin, Tuhan telah merestui perjuangan mereka. Andai saja mereka tahu, seandainya Majapahit tetap berdiri kokoh, kelak Belanda tidak akan mampu menguasai Nusantara secara keseluruhan. Sebab dengan dihancurkannya Majapahit, maka integrasi wilayah-wilayah diluar pulau Jawa yang selama ini mampu disatukan dalam panji kebesaran Majapahit, akan sangat sulit dilakukan oleh Demak Bintara, mengingat Demak Bintara memiliki kebijakan politik yang sangat kaku.

Begitu juga, hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa, pasti tidak akan bisa berjalan lancar selancar disaat Majapahit masih berkuasa. Bangsa Eropa dan dunia Islam, semenjak Perang Salib, telah memiliki dendam sejarah yang teramat dalam. Mau tidak mau, untuk memperlancar kembali pasokan rempah-rempah dari Nusantara yang kini didominasi kekuatan Islam, maka politik konfrontasi akan dikedepankan oleh bangsa-bangsa Eropa.

Secara tidak sadar, ummat Islam Putihan telah mengundang konflik lebih besar bagi Nusantara. Mengundang keterpurukan Nusantara dalam jangka waktu yang cukup lama.

Namun dikala itu, disaat mereka telah berhasil menghancurkan Majapahit, mereka benar-benar optimis, benar-benar yakin, bahwa dengan tegaknya Kesultanan Demak Bintara, maka Nusantara akan diberkahi kemakmuran oleh Tuhan.

Pada kenyataannya, sejak masa itu, Nusantara terus tenggelam kedasar jurang keterbelakangan dan kemiskinan. Mana janji Tuhan ? Seandainya Majapahit tetap berdiri, maka dapat dipastikan, Nusantara akan tetap tegak sejajar dengan China!

Kubu Abangan tidak ikut campur sama sekali dengan urusan perebutan kekuasaan ini. Namun, begitu kaum Putihan memenangkan pertarungan, maka bukan saja komunitas Hindhu-Buddha, kubu Abangan-pun ikut tersudut. Dan pada puncaknya, mereka lama-lama tidak betah juga terus-terusan disudutkan, dihakimi, diajari, dinasehati bahkan diintimidasi. Banyak para pengikut Abangan yang kemudian menjauhi pusat-pusat perkotaan. Menyingkir ke pedesaan. Membentuk kelompok-kelompok kecil, terpisah-pisah dan terkucil. Dan pada perkembangan selanjutnya, sebagian dari mereka ini menyebut dirinya sebagai penganut aliran Kejawen.

(bersambung)

Comments
  1. himawan_seno says:

    Terimakasih telah membagi ilmu ..
    Mungkin kita dulu teman seperjalanan ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s